Saturday, July 16, 2016

3 Wajah Realitas

Kawan, Saya bukan sarjana dari universitas manapun. Saya bukan seorang genius dari keluarga ilmuan. Saya juga bukan seorang penyair piawai apalagi filsuf. Tapi saya percaya apapun yang "dilintaskan" di kepala manusia, tidak datang tanpa makna.

Tiba-tiba seperti Archimedes: Eureka! Entah apa referensi ilmiahnya, boleh kawan selami sendiri, tentang realitas yang baru saja saya sadari, sebagai pendapat pribadi, bahwa ternyata realitas tidak pernah berwujud tunggal.

Ada 3 wajah realitas:

- Realitas Diri

Sudut pandang ego indvidu dalam menerjemahkan suatu kondisi/kejadian/stimulus.

Sudut pandang realitas ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, self talking, dan kepercayaan seseorang.

Misalnya, Marcell mendapat ranking 1 di kelasnya. Dia berpikir, hanya orang terbaik yang bisa mendapatkan ini. Dia makin sering bertanya dan meyakinkan dirinya sendiri, apakah juara 1 itu sesuatu yang luar biasa? Marcell akhirnya mendapatkan realitas bahwa dia adalah orang yang luar biasa, yang terbaik di kelasnya.

- Realitas Sosial

Realitas ini terbentuk karena nilai yang dianut oleh masyarakat sosial. Sangat dipengaruhi oleh isu yang berkembang dalam komunitas tersebut dan sangat rentan terjadi pembiasan.

Misalnya, teman-teman sekelas Marcell dan orangtua mereka tahu jika Marcell adalah anak seorang guru di sekolah yang sama. Tanpa dasar yang kuat, realitas yang lahir adalah wajar dan bukan hal yang istimewa jika anak seorang guru mempunyai "poin dan akses" tak tertandingi dalam hal ranking-rangkingan.

- Realitas Semesta

Realitas sejati. Sudut pandang "Ketuhanan" yang merupakan realita murni, terlepas dari asumsi.

Contoh, Marcell memang anak yang cerdas. Dia berhasil meraih ranking 1 di kelas karena kemampuannya sendiri. Ibunya yang juga mengajar di sekolah itu, justru memacu semangat Marcell agar dapat menjadi contoh murid yang lain.

Saingan terberat Marcell, Riska, murid baru yang jauh lebih jago perhitungan, terpaksa pindah sekolah sebelum pertengahan semester karena ayahnya dipindah-tugaskan oleh kantor.

Pikirkan saja sendiri betapa kompleksnya variabel yang mempengaruhi cara kita menerjemahkan stimulus menjadi realitas. Yang jelas saat ini bagi saya, asumsi, pada sisi tertentu, adalah hal terkonyol di dunia yang bisa dilakukan. Lebih parah dari marah dan jatuh cinta.

Semoga bermanfaat.
Salam.


Sunday, June 19, 2016

Pidato Pemimpi Tidur

jadilah aku
seburuk-buruknya manusia laki-laki
tanpa titel di belakang nama
dan gaji tetap
uang diterima bulanan menutupi utang bulanan

hei, apa kabar pemimpi?
belum habiskah tidurmu
atau belum kelar mimpi-mimpi itu
apa manusia-manusia masih lebih senang melihat pangkat
ketimbang moral yang masuk akal?

perang sengit ini takkan selesai
tapi kalaupun mati ditengah jalan
aku akan mati
sebagai orang yang tidak tunduk pada norma normal
sebagai pejuang
walau sering bangun kesiangan
demi mimpi
dan yang lebih absurd dari itu
: harga diri

aku punya pena
aku punya sehelai kertas
aku punya malam berpurnama
orang kaya mana yang dapat
menandingi kedamaianku?

tak cukup emas segunung
untuk membeli kebebasan.

hanya ada dua jenis orang
: miskin dan merasa kaya


Nino Zulfikar


Friday, June 3, 2016

Sunday, May 29, 2016

Pelarian Buta

dalam pelarian membingungkan ini
kita sama tak mempunyai peta
lagi tak paham arah

lari saja
jika lelah, berhenti
sejenak saja
lari lagi

kita tak tau sedang mendekati apa
atau jangan-jangan hanya buang-buang tenaga

tapi menunggu
tak membuat pembeda pada mati
meski gugur
kita akan gugur sebagai pemberontak nekat tersohor;
tapi jika berhasil kita tiba pada fajar setelah suatu subuh,
akan gorengkan bagimu sarapan nasi kesukaanmu

kau tahu?
hanya pemilik tujuan
yang dapat tersesat



Jakarta, 28 Mei 2016


Trending